Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

21 Februari 2011

Menulis Buku, Meluruskan Sejarah

ATMAKUSUMAH

Menulis buku membuat saya ingat pada pendapat Gertrude Hartman dalam kata pengantar bukunya, Builders of the Old World, yang terbit tahun 1959.

Katanya, ”Menyebarkan fakta dan gagasan melalui buku, majalah, dan surat kabar adalah salah satu cara terkuat untuk belajar tentang kebenaran mengenai apa yang sedang terjadi di dunia. Kita harus tahu kebenaran, dan kebenaran akan membuat kita bebas.”

21 Januari 2010

Menggugat Pelarangan Buku

http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2010012101321966
Kamis, 21 Januari 2010

OPINI

Oki Hajiansyah Wahab
Peminat masalah sosial, tinggal Bandar Lampung

KEJAKSAAN Agung kembali menyatakan lima buku sebagai buku terlarang. Kelima buku tersebut adalah Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto karangan John Roosa, Suara Gereja bagi Umat Tertindas Penderitaan, Tetesan Darah, dan Cucuran Air Mata Umat Tuhan di Papua Barat Harus Diakhiri karya Cocrates Sofyan Yoman, Lekra tak Membakar Buku Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950--1965 karangan Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan, Enam Jalan Menuju Tuhan karya Darmawan M.M., dan Mengungkap Misteri Keberagamaan Agama yang ditulis Syahrudin Ahmad.

19 Januari 2010

Pelarangan Buku di Indonesia: Hempasan dari Masa Lalu

(Versi ringkas ‘Book Banning in Indonesia : A Blast from the Past’ dimuat di Jakarta Post, 13 Januari 2010)

John Roosa

Pertamakali saya mendengar berita bahwa terjemahan buku saya, Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto (Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto’s Coup d’État in Indonesia), dilarang, saya dikuasai rasa déjà vu. Saya seakan-akan masih hidup di masa Suharto ketika semua barang cetakan disensor, ketika mahasiswa dituntut ke pengadilan karena membaca buku-buku Pramoedya Ananta Toer, ketika begitu banyak kawan-kawan saya yang berjuang melawan sang diktator bekerja secara anonim dan acap kali bergerak di bawah tanah … Tubuh saya meregang dan adrenalin pun mengalir deras.

13 Januari 2010

Book banning in Indonesia: A blast from the past

Published on The Jakarta Post (http://www.thejakartapost.com)

John Roosa , Vancouver, Canada | Wed, 01/13/2010 9:41 AM | Opinion

When I heard the news that the Indonesian translation of my book, Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Soeharto’s Coup d’État in Indonesia, was banned, I was perplexed.

What year was it? Was Soeharto still in power? In the midst of the remarkable progress in legal reform since Soeharto’s fall in 1998, book banning has become anachronistic. The Dec. 23 announcement by the Attorney General’s Office (AGO) is like some antique brought out from a dusty storeroom.

08 Januari 2010

Commentary: Book bans, lawsuits … and your freedom of speech is next

Published on The Jakarta Post (http://www.thejakartapost.com)

M. Taufiqurrahman , The Jakarta Post , Jakarta | Fri, 01/08/2010 8:59 AM | Headlines

The title of this article will undoubtedly sound alarming to many. What could go wrong? After all, isn’t this probably the only country in Southeast Asia that has a robust democracy with one of the freest presses in the world?

But in recent days, we have learned the hard way that even in a free society like ours, freedom of expression ought not to be taken for granted and that it should be earned and fought for, in the face of encroachment by those two Leviathans, the state and profit-seeking entities.

08 April 2008

Menyingkap Misteri, Membangun Empati: G30S sebagai Dalih Pembantaian Massal 1965-66

Sejarawan Ong Hok Ham (alm.) pernah melontarkan skeptisismenya terhadap upaya-upaya alternatif menemukan dalang Gerakan 30 September 1965 (G30S). Kesangsiannya ini merupakan respons atas silang pendapat mengenai dalang di balik penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan Darat (AD) pada 30 September 1965. Silang pendapat itu muncul tidak lama setelah Suharto jatuh pada Mei 1998. Tentu bukan maksud Ong untuk membela versi resmi rezim Orba yang secara gampangan menuduh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang G30S – sebuah tuduhan yang dipercayai sebagai kebenaran selama rezim Orba berkuasa, nyaris tanpa gugatan.

31 Maret 2008

Hilmar Farid: Menulis Sejarah Bukan Perkara Mudah

Menulis sejarah bukan perkara mudah. Impian agar sejarawan bisa menghadirkan masa lalu wie es eigentlich gewesen ist (sebagaimana sesungguhnya terjadi) dewasa ini semakin jelas tidak mungkin terwujud. Seandainya ada mesin waktu yang bisa melontarkan kita ke masa lalu pun, sejarah tetap akan dilihat dari perspektif tertentu, dan tidak dapat dihadirkan kembali sepenuhnya. Sejarah, seperti kita tahu adalah representasi dari masa lalu dan bukan masa lalu itu sendiri. Sejarah selalu diceritakan, disusun kembali, berdasarkan informasi yang bisa diperoleh mengenai masa lalu, dan karena itu akan selalu kurang, tidak lengkap dan memerlukan perbaikan. Karena itu sejarawan umumnya mengatakan bahwa sejarah itu terbuka bagi interpretasi yang berbeda, dan selalu bisa ditulis ulang.

05 November 2005

40 Years Later: The Mass Killings in Indonesia

By John Roosa and Joseph Nevins

Global Research, November 5, 2005

One of the worst mass murders of the twentieth century." That was how a CIA publication described the killings that began forty years ago last month in Indonesia. It was one of the few statements in the text that was correct. The 300-page text was devoted to blaming the victims of the killings -- the supporters of the Communist Party of Indonesia (PKI) -- for their own deaths. The PKI had supposedly attempted a coup d'état and a nationwide uprising called the September 30th Movement (which, for some unknown reason, began on October 1). The mass murder of hundreds of thousands of the party's supporters over subsequent months was thus a natural, inevitable, and justifiable reaction on the part of those non-communists who felt threatened by the party's violent bid for state power. The killings were part of the "backfire" referred to in the title: Indonesia ­ 1965: The Coup that Backfired. The author of this 1968 report, later revealed to be Helen Louise Hunter, acknowledged the massive scale of the killings only to dismiss the necessity for any detailed consideration of them. She concentrated on proving that the PKI was responsible for the September 30th Movement while consigning the major issue, the anti-PKI atrocities, to a brief, offhanded comment. [1]